Selasa, 13 Januari 2009

何だこりゃぁあ (What The Heck)

Tele marketer, siapa yang tidak mengenal mereka? Bagi sebagian orang, mereka adalah pengganggu, sebagian lain berkata bahwa mereka menyediakan informasi yang berguna hanya saja waktunya tidak tepat. Secara pribadi, mereka tidak mengganggu atau apapun, secara gw kagak pernah ditelponin ama mereka yach~~
Bagaimana dengan internet maeketer, dan email marketer? sama seperti tele marketer, bedanya mereka lebih gampang didiamkan ketimbang tele marketer.
Tapi kalau dipikir lebih panjang, para marketer yang disebutkan barusan, terutama tele marketer, harus memiliki kesabaran yang luar biasa. Minimal karena lebih banyak orang yang memaki-maki mereka ketimbang menyambut maksud baik mereka. Pendekatan yang mereka lakukan, disebut juga dengan istilah Permission Marketing. Menurut mbah wikipedia, Permission Marketing ialah pendekatan dimana marketer akan bertanya terlebih dahulu apakah calon customernya mau melanjutkan ke step selanjutnya. Jika "Ya", maka biasanya para marketer akan memberikan opsi, dan hal-hal yang berkaitan dengan tujuan mereka. Jika "Tidak", tetap saja si marketer akan menawarkan, namun kali ini lebih gencar, tetapi ada juga yang langsung menyerah (walaupun jarang).
Sebagai orang yang dibesarkan dengan budaya timur yang masih tahu soal tata krama, Permission Marketing ini dianggap lebih sopan karena ditawari terlebih dahulu ketimbang langsung dateng, dan lempar-lempar selebaran kagak jelas di depan rumah orang. Selain norma kesopanan, Permission Marketing ini juga termasuk menghemat biaya (khususnya biaya advertising) karena mereka langsung menyerang target pasar yang sudah jelas, dan menghentikan segala upaya untuk terus memasarkan produk atau jasa yang mereka tawarkan begitu mengetahui calon customernya tidak berminat dengan apapun yang mereka tawarkan.

Dibawah ini ada beberapa quote dari film fave gw, Seinfeld dalam menghadapi tele marketer, dan sejenisnya
Telemarketer: Would you be interested in a subscription to the New York Times?
Jerry: Yes.
[hangs up]
Namun cara yang diatas kurang memberikan kepuasan batin (waddehek...), maka dari itu biasanya gw ngegunain quote ini
Jerry: This isn't a good time.
Telemarketer: When would be a good time to call back, sir?
Jerry: I have an idea, why don't you give me your home number and I'll call you back later?
Telemarketer: Umm, we're not allowed to do that.
Jerry: Oh, I guess because you don't want strangers calling you at home.
Telemarketer: Umm, no.
Jerry: Well, now you know how I feel.
[hangs up phone]

Selasa, 06 Januari 2009

ゲームセンタ弐 (GameQuarters Part.2)

Melanjutkan sedikit dari postingan ゲームセンタ (GameQuarters).
Pada awal pembentukannya, GameQuarters (atau yang lebih akrab disebut dengan GQ) hanya berlokasi, dan dikenal hanya di Surabaya. Namun setelah bekerja sama dengan media partnernya yang pertama yaitu majalah ZIGMA, dan OMEGA yang merupakan bagian dari Jawa Pos Group, nama GQ mulai lebih dikenal. Tetapi dengan media promosi yang terbatas, GQ bukannya dikenal sebagai franchise Game Center, melainkan kumpulan Game Center bernama sama yang hanya ada di Surabaya. Image yang melekat pada nama GQ saat itu susah untuk dihilangkan, bahkan sampai saat ini, walaupun pada kenyataannya GQ sudah muncul di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Bandung.
Pihak manajemen GQ tidak berdiam diri saja. Mereka mulai merambah ke dunia digital dengan menciptakan situs khusus GQ yang dilengkapi fitur forum, dan halaman utama yang berisikan berita seputar game lokal maupun internasional. Sampai detik ini, produk hasil karya GQ, baik franchise atau Vandaria Wars (permainan kartu yang bernaung dibawah bendera GQ) terus dipopulerkan di forum, dan situs-situs lain. Bersama dengan GAMEZiNE, media partner barunya, GQ diharapkan mencapai batasan baru di tahun 2009 ini.

Lalu, apa yang menanti GQ di tahun-tahun mendatang?
Tanpa mengutip dari perkataan seseorang yang menghubungkan koneksi 4G atau 5G dengan hologram (u know...). Dalam dunia digital, GQ masih bisa mengembangkan pengaruhnya melalui situs berita gamenya. (Gw tau gw nulis kyk bgini akan menyebabkan kematian gw, dan si twincest) Para kuli tinta harus berhasil mencari, dan menghasilkan berita (kalau bisa melalui investigasi) yang membuat GQ menjadi kiblat bagi situs berita game, minimal di Indonesia. Bukan hanya itu saja, melalui media partnernya, GQ harus memaksa, dan membiasakan pembacanya mengakses situs miliknya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memberikan undian berhadiah seperti yang diterapkan saat ini, namun jawabannya harus dikirimkan melalui PM kepada salah satu kru media partnernya.